Minggu, September 28, 2008

Lima kali lubang depan satu kali lubang belakang

Lima kali lubang depan satu kali lubang belakang
TUKANG CENDOL ‘GARAP’ BOCAH

Oleh : Afrizal

Sudah lima bulan Herman dicuekin istrinya. Setiap ajakan bersetubuh dibalas tendangan sang istri. Karena hasratnya terbendung, pedagang es cendol itu melampiaskannya kepada siswi SD. Tragisnya, korban diperkosa hingga lima kali plus sodomi satu kali.

Hermanyadi alias Herman setiap hari mangkal menjajakan dagangan es cendolnya di halaman luar sebuah Sekolah Dasar Negeri di kawasan Berdikari 13 Ilir, Palembang. Semula pria berusia 26 tahun ini tidak tergiur melihat siswi SD lalu lalang di depannya atau jongkok memamerkan paha mulus sambil menunggu es cendol. Tetapi, setelah lima bulan ‘absen ngebor’ istrinya, semua itu berubah.

Entah dapat bisikan dari mana, Herman punya kesimpulan, jika tidak dapat ‘jatah’ di rumah, kenapa tidak mencoba cara lain. Dan gilanya,dia mengincar seorang siswi SD itu, sebut saja Bunga (7) yang baru duduk dikelas satu. Sejak awal September lalu, kelelakian tukang es cendol itu selalu tergugah jika melihat sosok Bunga yang tinggal di Jalan Ali Gathmir, Lorong Karang Kuang Rt 3 10 Ilir, sekitar 100 meter dari sekolah itu.

Pertengahan September lalu, warga Lorong Lawang Kidul Darat Rt 18, 13 Ilir, Palembang ini sudah tidak kuat lagi menahan hasrat terpendam. Jumat siang (19/9) menjelang sore itu, setelah bubaran sekolah dia sengaja masih mangkal lantaran malas pulang. Apalagi semalam habis bertengkar dan ditendang istrinya hingga jatuh dari ranjang.

Ketika sedang melamun memikirkan rumah tangganya yang sudah agak runyam, tiba-tiba Bunga muncul di hadapannya. Gadis kecil dengan rambut dikuncir dua itu langsung jongkok di hadapan Herman sambil menyodorkan uang receh sebanyak Rp. 900,-. Bunga ingin mebeli tiga plastik es cendol, satu untuk dia, dua lagi untuk temannya yang menunggu di rumahnya.

Sambil melayani, mata Herman berulang-ulang ‘menyantap’ belahan paha Bunga dan celana dalam gadis kecil lugu itu. Selesai membungkus tiga plastik, pria bertubuh sedang itu mulai beraksi. Tangannya yang kotor dan lengket lantaran kena cairan gula mulai menjamah paha mulus Bunga. Lantaran masih polos, Bunga diam saja diperlakukan seperti itu.

Herman kemudian mengembalikan uang bocah itu sambil mengajaknya ke suatu tempat. Dasar gadis ingusan, dia senang saja mendapat tiga plastik es cendol gratis. Suasana di sekitar saat itu memang sedang sepi, sehingga Herman dengan leluasa menggandeng tangan Bunga dan membawanya ke gudang kosong yang banyak berdiri di dekat sekolah.

Di dalam gudang tak terpakai lantaran pemiliknya bangkrut Herman semakin gelap mata. Gadis kecil itu direbahkan di lantai kotor tanpa alas. Tangan pria itu mulai menyingkap rok seragam sekolah dan menjamah kemaluan Bunga. Lagi-lagi dasar anak kecil, Bunga tidak sadar sudah berada dalam ‘mulut harimau’, bocah itu diam saja sambil memegangi tiga plastik es cendol.

Melihat korbannya sudah pasrah, Herman mulai ‘menguliti’ bocah itu. Baru setengah bugil, pria itu sudah tidak tahan lagi dan langsung memperkosanya. Perkosaan brutal dan tak berimbang itu usdah pasti melahirkan derita bagi Bunga. Bocah malang itu menjerit dan merintih ketika liang vaginanya yang tidak seberapa besar diterobos ‘rudal’ pelaku. Sayangnya, jeritan dan rintihan korban tidak didengar orang lain lantaran terhalang tembok gudang yang tinggi dan tebal.

LIMA KALI--Ejakulasi yang dialami Herman berbarengan dengan kondisi korban yang semaput. Senyum puas pria bejat itu dibayar mahal dengan rasa perih tak terhingga di selangkangan Bunga. Saat itu kondisi korban drastis merosot. Jangankan untuk berontak, teriak saja dia sudah tidak mampu. Bunga tergeletak setengah bugil, sementara darah segar dari kemaluannya merembes bercampur dengan debu lantai gudang.

Sepuluh menit kemuidan, Herman terangsang kembali. Korban yang sudah teler itu disetubuhi lagi hingga ejakulasi. Begitu seterusnya, selang sepuluh menit pelaku mengulangi aksi perkosaannya hingga lima kali. Bisa dibayangkan penderitaan Bunga yang kecil itu digagahi hingga lima kali. Korban terkapar, dan pelaku duduk bersandar kelelahan.

Tragisnya, ketika kelelakian Herman terusik lagi dan ‘senjata’nya mengacung lagi, pria itu membalikkan tubuh korban yang sudah tidak berdaya itu. Dasar manusia berdarah iblis, tidak puas menggarap lubang depan, Herman akhirnya mensodomi dubur Bunga hingga berdarah-darah. Saat itu korban benar-benar tidak berkutik lagi. Bahkan hanya untuk menolehkan kepala dia tidak mampu.

Setelah puas, pelaku cepat-cepat berpakaian dan berusaha meninggalkan TKP (Tempat Kejadian Perkara). Bahkan meninggalkan korban begitu saja. Seolah-olah tidak pernah terjadi pemerkosaan. Herman langsung mengambil dagangannya. Dan beranjak dari lokasi mangkalnya.

Setelah Herman lari dari gudang, selang 30 menit kemudian, barulah Bunga sadar dan bangkit kemudian berusaha membenahi pakaiannya. Korban sempat termenung sebelum memutuskan meninggalkan tempat terkutuk itu.

Bunga yang masih merasakan perih di kemaluannya terseok-seok berdiri. Dengkulnya sangat lemas sekali. Namun dasar anak yang cukup mandiri, dia berusaha tegar dan segera pulang. Ketika memasuki jalan besar korban melihat ada orang lewat. Namun dia tidak berteriak. Mungkin dalam dirinya ada rasa takut.

Sampai dirumah, korban diam saja. Gadis mungil yang lincah ini tetap berusaha menyimpan aib yang menimpa dirinya. Rasa sakit di kemaluannya mulai dirasakannya ketika kencing. Orang tuanya tidak curiga. Kecurigaan muncul ketika korban tidak sekolah beberapa hari dengan alasan sakit perut.

Rosa (31) –nama disamarkan--, ibu kandung korban memberi minyak angin. Sampai Selasa malam, korban bercerita setelah didesak ibunya yang curiga melihat langkahnya yang tidak normal saat keluar dari kamar mandi. “Anu (kemaluan-red) aku dimasuke (dimasuki), cak punyo kawanku tu,” ujar korban pada ibunya. Mendengar pengakuan anaknya ini Rosa histeris dan marah besar. Dan bersama tetangganya melaporkan kejadian itu ke polisi.

Mendengar laporan ini pihak Mapolsek IT II. mulai mengadakan pengintaian. Selasa siang, Kanit Reskrim, Ipda Hasanuddin SE dan anak buahnya mencari informasi keberadaan Herman. Ternyata pelaku masih berdagang es cendol agak jauh dari sekolah korban. Herman ditangkap di Jalan Sayangan, Kelurahan 13 Ilir.

Di depan polisi Herman mengakui semua perbuatannya. Bahkan mengatakan dengan jelas “Aku puas memperkosa anak itu”. Kapolsek Ilir Timur II, AKP Rakhmad Setyadi SH Sik, didampingi Kanit Reskrim, Ipda Hasanuddin SE mengatakan, tersangka pelaku sudah mengakui segala perbuatannya dan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya dia ditahan.

Ketika Exo mendatangi rumah korban, tampak bocah itu sedang bermain bersama teman-temannya di lorong sempit dan kotor. Setelah kejadian, korban tetap bersekolah dengan kawalan ketat neneknya.

LIMA BULAN ‘NGANGGUR’--ketika ditemui dalam penjara Mapolsek IT II, Herman terkesan santai “Istri aku galak, marah-marah bila diajak berhubungan badan,” ujarnya memulai pembicaraannya dengan Exo. Akibatnya Herman sering berteriak dan melakukan tindakan kasar pada Nur, sitrinya.

Pertengkaran pasutri ini dipicu masalah ekonomi keluarga. Nur mengkaitkan penghasilan yang diperoleh Herman setiap harinya hanya Rp 10 ribu. Menurut istrinya tidak cukup untuk kebutuhan. Sedikitnya jatah uang menyebabkan Nur sering ribut dengan Herman. Hal ini sering juga dikaitkan dengan hubungan intim.

Sejak lima bulan lalu jatah hubungan seks tak diberi sama sekali. Nafsu Herman jadi terkekang. Pikirannya setiap hari jadi kotor. Untuk menyalurkan pada wanita nakal alias pelacur di Kampung Baru tak punya uang.

Terkekangnya nafsu sek Herman dan tak punya uang untuk nyeleweng, membuatnya cari ‘layanan’ gratis. Suatu ketika Bunga yang sering pulang sendirian itu diincarnya. Dan diperhatikan ketika pulang sekolah. Hal ini sudah berjalan berbulan-bulan. Sehingga ketika ada kesempatan dan pada waktu itu suasana sangat sepi, Herman berusaha menarik korban ke dalam gudang dan memperkosanya berkali-kali. “Aku khilaf ,” akunya.

Dengan wajah tertunduk lesu Herman terus menceritakan kehidupannya lagi. Semua ini akibat Nur, jika dia mau diajak hubungan seks setiap harinya. Pemerkosaan ini tidak akan pernah terjadi. Herman yang tertunduk lesu dan hanya pasrah menerima kenyataan, tetap saja tabah.

Akibat kurang harmonisnya hubungan ini akibatnya Herman cari kesempatan lain. Pria lulusan MTs Negeri Palembang tidak mampu menahan birahi yang sering mengekang dirinya. Hingga perbuatan perkosaan pada SW terjadi. “Karena nafsu terkekang selama lima bulan, aku gawei (diperkosa) Bunga sebanyak lima kali dan bonusnya sekali (maksudnya disodomi). Aku pasrah bae apo yang terjadi pada diriku ini, aku terimo hukuman bakal dijatuhi pada diriku ini,” kata Herman dibalik terali besi.*