Senin, September 29, 2008

Mau Jadi Presenter demi Mobil Audi…


Mau Jadi Presenter demi Mobil Audi…


POPULARITAS dan keinginan tampil di depan publik atau kamera tak hanya monopoli orang dewasa sebab sebagian anak-anak pun dengan berbagai alasannya mempunyai keinginan semacam itu. Coba tanyakan kepada anak-anak berusia empat hingga 12 tahun, pasti sebagian di antara mereka akan mengatakan ingin menjadi penyanyi, pemain sinetron, atau presenter.

KALAU zaman dulu anak akan menjawab cita-citanya adalah menjadi dokter atau insinyur, sekarang keinginan itu lebih bervariasi. Sebab, anak-anak masa kini memiliki lebih banyak peluang untuk melihat berbagai kemungkinan, cita-cita menjadi penyanyi pun tak kalah bagusnya daripada menjadi dokter.

Dengarkan apa kata Deni, pemuda cilik berusia lima tahun, "Aku ingin jadi presenter biar uangku banyak. Aku ingin beli mobil Audi warna merah." Sementara Kasih (9) mengaku senang belajar bicara di depan umum karena, "Belajarnya santai, tidak seperti di sekolah yang gurunya galak dan wajahnya cemberut melulu."

Sementara Christina Claudia Colondam (10) yang sudah mempunyai lima album rekaman dan suka bermain sinetron ini mengaku senang menyanyi dan menari, tetapi dia juga suka belajar di sekolah. Kalau sebagian orangtua masa lalu tak ingin anaknya menjadi penyanyi-alasannya profesi itu tak menjamin masa depan yang baik-maka orangtua seperti Loddy dan Yani, orangtua Christina, justru tak segan-segan merogoh kocek untuk mewujudkan keinginan anaknya sebagai penyanyi.

Anak lainnya, Francisca (10), mengatakan ingin menjadi artis agar bisa menghibur banyak orang. "Nanti aku kan dibayar dan duitnya buat ditabung," ujarnya. Profesi di dunia hiburan tampaknya memang menggiurkan, termasuk bagi anak-anak. Entah paham betul atau tidak, namun di benak mereka menjadi populer, kerap tampil di layar kaca dan diundang naik panggung ke berbagai mal dan kota ini, sungguh menggembirakan.

Anak-anak memang "tak bicara" mengenai uang karena seperti Christina, soal uang kontrak yang diterimanya bila naik panggung atau bermain sinetron sepenuhnya urusan orangtuanya. Menurut Yani (43), ibunda Christina, setiap ada tawaran, dia akan memberikan kepada Christina. Jika si anak berminat, baru pembicaraan dilanjutkan, namun jika anaknya tidak tertarik, Yani pun tak ragu langsung menolaknya.

"Kalau ada yang bilang kami mengeksploitasi anak, itu tidak benar. Boleh lihat sendiri, dari empat anak kami, hanya Christina yang menyanyi dan main film. Itu karena kami melihat potensinya, dan anaknya sendiri begitu bersemangat. Pelajaran sekolahnya juga enggak ketinggalan meski beberapa kali harus minta izin dari sekolah," kata Loddy Colondam (54), ayah Christina.

APA pun alasannya, kalau melihat situs WWW.ARTISCILIK.COM, misalnya, tampak bahwa minat menjadi artis cilik-penyanyi, pemain sinetron, model iklan, presenter-tampaknya terus berkembang. Pengelola situs tersebut, Sigit, mengatakan, artis cilik yang masuk ke situs yang dibuat pada tahun 2000 itu jumlahnya terus bertambah meski ada masa-masa vakum.

Menurut dia, jumlah anak yang berminat masuk ke situs tersebut sampai ratusan, namun dia menyaring dengan syarat artis yang bisa memasukkan namanya ke situs adalah mereka yang sudah punya album rekaman, pernah bermain sinetron, menjadi bintang iklan, presenter, atau setidaknya telah memenangkan lomba-lomba seperti melukis dan menyanyi.

"Tahun 2000 banyak peminat yang ingin masuk ke situs artiscilik, tetapi sekitar tahun 2002 bisa dikatakan sebagai masa vakum karena aktivitas pada situs itu relatif mandek. Namun, sejak tahun 2003 lalu mulai banyak lagi permintaan atas artis cilik maupun sebaliknya, artis cilik yang baru mendaftar ke situs," katanya.

Sekarang ini dari 100-an artis cilik yang namanya ada di situs, 70-an di antaranya yang benar-benar aktif. Artinya, selain menerbitkan album rekaman, menjadi presenter, atau bintang iklan dan sinetron, mereka juga kerap diminta untuk mengisi acara.

Siapa pemakai jasa para artis cilik tersebut? Selain rumah produksi maupun pembuat iklan, acara ulang tahun anak pun kerap dimeriahkan dengan kehadiran para artis cilik sebagai penghiburnya. Artis cilik yang tergabung dalam situs itu tak hanya mereka yang berdomisili di Jakarta, tetapi juga dari kota-kota lain, seperti Surabaya.

Menurut Sigit, mereka yang mengontrak artis cilik itu pun berasal dari berbagai kota. Christina, contohnya, pernah diundang menyanyi di Batam, dia juga pergi ke Yogyakarta selama tiga minggu untuk sebuah film televisi.

"Saya melihat sisi positifnya. Dia bersemangat sekali ketika harus berakting dan tak keberatan kerja keras untuk mengejar pelajaran sekolahnya. Dia juga belajar bekerja sama dalam pembuatan film. Namun, dia tak terlalu tertarik pada hasilnya. Kalau kita menonton sinetron di mana dia main, Christina tak terlalu tertarik," ucap Loddy tentang anaknya yang sejak usia dua tahun suka menari dan menyanyi itu.

Sementara Iin Iksan (45), ibu dari Putri (8), membawa anaknya mengikuti kursus yang diajar oleh presenter Dewi Hughes bukan dengan maksud agar anaknya menjadi presenter. "Putri itu cerewet sekali. Dia senang meniru-niru segala macam suara, jadi saya merasa perlu menyalurkan kesenangannya. Biar kecerewetannya terarah lewat kursus di sini," ujarnya.

Iin memilih membawa Putri ikut kursus presenter, dan tidak les vokal atau kursus lainnya, karena dia tahu persis bahwa anaknya tidak bisa menyanyi. "Saya hanya ingin Putri merasa percaya diri sehingga dia mudah diterima di lingkungan mana pun dia berada," ujar ibu dua anak ini.

Hasilnya? Putri yang semula tomboi, sekarang lebih memperhatikan penampilannya. Rasa percaya diri juga tumbuh, Putri berani tampil ke panggung dan lancar mengemukakan pendapatnya tentang penampilan temannya. "Dia juga tidak malu bercerita kalau dia masih suka minum susu pakai botol dan bertekad menghentikan kebiasaan tersebut. Kalau tidak ikut kursus ini, mungkin dia masih suka ngedot," ujar Iin menambahkan.

Keinginan untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak lewat kursus juga dikemukakan Kurniasih (32), ibu dari Semi (7), yang merasa anaknya kurang tangkas dalam berbahasa. Sementara Ossy Widiastuti Gani (40) membawa anaknya, Kasih, ikut kursus karena sebelum menikah, Ossy adalah presenter dan peragawati.

"Kasih senang menjadi presenter. Sebagai orang yang pernah akrab dengan dunia panggung, saya ingin Kasih menjadi presenter yang baik, kalau memang dia ingin menjadi presenter. Saya bisa menjadi presenter, tetapi tidak tahu bagaimana mengajarkannya, makanya Kasih saya kursuskan," kata Ossy yang juga mengikutkan anaknya itu pada kursus vokal.

PSIKOLOG dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Tjut Rifameutia U Ali-Nafis MA, mengatakan, sekolah pada umumnya hanya mengajarkan ilmu pengetahuan semata, namun tidak mengembangkan bakat lain yang mungkin dimiliki anak. Padahal, bakat itu tak mudah diketahui bila anak tidak diberi kesempatan untuk mempelajarinya.

"Semua kegiatan itu bisa positif kalau tujuannya murni untuk mengembangkan bakat dan kepandaian anak semaksimal mungkin. Anak memang perlu diberi banyak kesempatan dalam berbagai bidang agar dia memiliki bekal luas. Anak yang pintar di sekolah, misalnya, belum tentu punya rasa percaya diri dan kemampuan bersosialisasi. Hal yang bisa dia pelajari lewat kursus atau kegiatan lain di luar sekolah," katanya.

Kalau memang anak punya potensi di bidang menyanyi, melukis, atau berakting, dengan mengikutkan mereka pada tempat bimbingan yang tepat, bisa berakibat positif. "Jangan bicara penghasilan, tetapi potensi anak yang harus dikembangkan. Mereka akan makin percaya diri, kreatif, dan kemampuan verbalnya juga meningkat," ujar Tjut Rifameutia.

Namun, dia mengingatkan pula bahwa masa anak-anak adalah saat bermain sehingga pengajaran yang diberikan pun haruslah sesuai dengan usia dan kematangan masing-masing anak. "Kalau anaknya tak berpotensi dan orangtuanya tetap membawanya ke tempat kursus, atau membujuknya ikut casting, anak justru merasa stres. Kalau sudah begini, biasanya rasa percaya diri juga enggak tumbuh dan pelajaran sekolah pun merosot," tuturnya.

Orangtua sebaiknya juga mewaspadai bila si anak mulai merasa "terkungkung" dengan berbagai aturan sebagai artis, mulai dari ketepatan waktu sampai bagaimana mesti bersikap di depan penggemar. Ekspresi anak yang tak menyenangkan dan kata-kata yang cenderung mengesalkan merupakan salah satu pertanda bahwa si anak lelah dengan perannya sebagai artis sekaligus pelajar.

"Perhatikan juga perilaku anak. Kalau dia jadi suka membantah, susah diatur, dan terbiasa pulang malam, karena terbiasa show hingga untuk hal lain pun dia merasa tak salah kalau pulang malam, ini bisa berarti wibawa orangtua di mata si anak sudah menurun," katanya menambahkan.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah persaingan di dunia hiburan yang semakin ketat sehingga mengandalkan kursus saja tanpa penambahan ilmu bisa membuatnya kalah bersaing. "Orangtua harus memberi pengertian, bagaimanapun sekolah tetap penting agar tak menyesal di kemudian hari," ujar Tjut Rifameutia.

KALAU semakin banyak tempat kursus dan sanggar untuk anak, ini tak lepas dari kondisi sekolah yang cenderung hanya memberikan ilmu pengetahuan "formal", di samping semakin terbukanya peluang bagi anak untuk mengisi dunia hiburan, mulai dari televisi sampai berbagai kegiatan di mal.

Menurut Dewi Hughes yang mengelola Hughes Presenter Cilik, salah satu tempat kursus bagi anak, sejak awal dia tidak menjanjikan kepada orangtua yang membawa anaknya ke tempat kursus bahwa si anak bakal mendapat tawaran pekerjaan menjadi presenter.

"Saya hanya ingin melatih anak-anak menjadi sosok yang berani berbicara di depan orang. Dia punya rasa percaya diri dan mudah diterima di berbagai lingkungan," ujar Hughes yang beranggapan bahwa orang Indonesia cenderung "sulit berbicara" hingga tidak mampu "menjual" dirinya.

Meski tidak menjanjikan si anak bakal menjadi presenter, informasi kesempatan untuk menjadi model, presenter, maupun pemain sinetron yang diketahui Hughes biasanya disampaikan kepada orangtua peserta kursus. "Saya selalu menekankan bahwa anak yang bisa tampil di depan umum tidak harus menjadi presenter. Dia juga bisa menjadi pemasar, humas, dan juru bicara yang baik. Sebab, tampil di depan umum itu merupakan keterampilan yang bisa dilatih," katanya.

Sayangnya, Hughes melihat masih banyak orangtua yang terlalu memaksa anaknya menjadi presenter. Mereka sangat terpaku pada apa yang dilihat di layar kaca atau di atas panggung. Bahkan, orangtua sering kali menjadi orang yang paling menuntut si anak tampil prima di atas panggung. Hal yang justru akan membuat si anak merasa tak percaya diri dan gugup.

"Makanya saya selalu melibatkan orangtua. Mereka juga harus tampil di depan agar bisa merasakan bagaimana groginya berbicara di depan publik. Jika hati ini sudah grogi ditambah orangtua menekan dari belakang, bagaimana anak bisa tampil baik?" ujar Hughes.

Dari pengalamannya mengelola Hughes Presenter Cilik, dia berpendapat bahwa masih ada orangtua yang merasa talenta anaknya besar meski si anak baru berumur empat tahun. Mereka juga memaksa mengikutkan anaknya untuk kursus, padahal Hughes sudah mensyaratkan usia minimal enam tahun.

"Anak umur lima tahun ke bawah masih belum bisa fokus dan lancar membaca. Bicaranya pun belum sempurna. Tetapi karena si ibu memaksa, saya mencoba mengetes si anak. Saya minta anak menyanyi, dia tidak mau dan malah minta bercerita. Saya persilakan dia bercerita, si anak malah menangis," kata Hughes sambil mengangkat bahunya.

Memang, bisa dikatakan pada umumnya orangtua akan merasa bangga melihat anaknya tampil di layar kaca atau di panggung. Namun, orangtua pun sebaiknya mempertimbangkan pula hal lain yang biasanya mengiringi kepopuleran si anak, misalnya anak jadi merasa mudah mendapat uang dan enggan belajar.

"Oleh karena anak itu harus sekolah, lalu syuting atau melakukan kegiatan lain berkaitan dengan dunia hiburan, maka dia tak lagi punya waktu bermain dengan teman-temannya. Pergaulannya jadi eksklusif. Kalau sudah begini, keinginan agar si anak pandai bersosialisasi malah jadi bumerang karena dia terbiasa eksklusif, malah jadi susah membaur," ujar Tjut Rifameutia.

Sebaliknya, kalau si anak memang berpotensi dan bisa mengelola pembagian waktunya dengan baik serta pandai menyesuaikan diri dalam berbagai situasi, kegiatannya di dunia hiburan bisa jadi tak menimbulkan masalah.

Kalau melihat pengalaman penyanyi cilik yang populer pada tahun 1970-an, seperti Chicha Koeswoyo, Adi Bing Slamet, Ira Maya Sopha, dan Joan Tanamal, nyatanya mereka hanya bertahan dalam kurun waktu tertentu. Setelah itu, nama mereka tenggelam, entah karena sibuk sekolah, bosan, atau sebab hal lainnya.… (ARN/CP)